Kamis, 22 Juli 2010
Afsel Setelah Piala Dunia...



Ribuan warga Afrika Selatan baik berkulit hitam, putih, maupun coloured, berbaur menjadi saatu untuk memberi semangat timnya saat dikirab sebelum Piala Dunia 2010. Pesta sepak bola itu membuat warga menjadi lebih bersatu.

Afrika Selatan (Afsel) telah membuktikan bahwa mereka sukses menggelar Piala Dunia 2010. Setidaknya, semua agenda berjalan lancar sesuai jadwal dan tak ada kerusuhan berarti. Wajar jika euforia ini membangkitkan keinginan Pemerintah Afsel untuk menjadi tuan rumah Olimpiade 2020. Hal itu pun mengingat bahwa keuntungan tidak hanya masalah finansial.

Secara finansial, Afsel memang meraih keuntungan besar. Bahkan, sebelum Piala Dunia 2010 digelar, FIFA sudah menjanjikan, minimal Pemerintah Afsel akan meraih keuntungan 80 juta euro (sekitar Rp 927,3 miliar). Kenyataannya, keuntungan finansial Pemerintah Afsel melebihi janji FIFA.

Seperti kata Menteri Keuangan Afsel Prafin Gordhan kepada Business Times, Minggu (4/7/2010), keuntungan pemerintah mencapai Rp 49,4 triliun. Gross domestic product (GDP) Afsel juga naik 0,4 poin karena Piala Dunia.

Selain itu, Piala Dunia juga membuka sekitar 130.000 lapangan kerja. Ini belum dihitung para pedagang asongan yang ikut mengambil keuntungan dari Piala Dunia.

Keuntungan lain, citra Afsel semakin membaik di tengah isu kriminal yang tinggi dan HIV/AIDS yang menjamur. Setidaknya, mereka telah membuktikan mampu menggelar pergelaran sebesar dan semegah Piala Dunia.

Ini jelas akan berdampak baik ke banyak hal. Kehadiran investor kemungkinan akan semakin banyak dan itu menjadi salah satu sasaran Pemerintah Afsel. Bahkan, Indonesia pun kini mulai tergiur berinvestasi di Afsel. Duta Besar Indonesia untuk Afsel, Syahril Sabaruddin, mengatakan, "Sudah saatnya investor Indonesia menyerbu negeri itu."

Kepercayaan diri warga Afsel juga semakin besar. Bahkan, mereka kini merasa sejajar dengan negara Eropa atau bahkan Amerika Serikat (AS). Seorang pemuda Johannesburg, Malehina, mengatakan, Afsel negeri yang maju dan kini dunia mengerti lewat Piala Dunia.

"Anda lihat sendiri kami punya fasilitas yang baik dan bisa menggelar Piala Dunia dengan baik. Kami negeri yang besar, seperti halnya Amerika," katanya bangga.

Bahkan, pemerintah membuat beberapa spanduk dan billboard di jalan-jalan yang membangkitkan kepercayaan diri. Sebagai contoh, "World Cup in World Class".

Keuntungan lain, persatuan warga Afsel lebih terasa. Setidaknya selama Piala Dunia, warga kulit hitam, putih, dan indo (coloured) bisa lebur dalam gairah sepak bola dan semangat serta identitas yang sama: Bafana Bafana.

Maklum, Afsel merupakan negeri yang masih sangat sensitif soal perbedaan ras karena memang punya sejarah buruk dalam hal ini. Apartheid yang membeda-bedakan ras meninggalkan dendam dan kecurigaan yang masih terasa.

"Sepak bola untuk semua orang beda dengan olahraga lain. Kami jadi lebih satu," kata Vanny van der Vaart, warga kulit putih Pretoria. Hanya, begitu Piala Dunia selesai, kembali muncul masalah sosial. Ancaman xenofobia kembali meneror. Bahkan, Presiden Afsel Jacob Zuma sampai meminta semua jajaran serius mengatasi xenofobia.

Wajar jika demikian karena Afsel punya pengalaman buruk soal xenofobia atau kecemburuan dan kebencian kepada orang asing. Sejak 2000 sampai 2008, terjadi kekerasan terhadap orang asing yang menyebabkan 64 orang tewas. Khusus pada Maret 2008, terjadi kekerasan massal dan meluas hingga menewaskan 62 orang.

Satu hal, soal sepak bola Afsel. Mereka tampak belum siap berkompetisi di tingkat dunia. Sebagai tuan rumah, mereka tampak merana, langsung tersingkir pada putaran pertama.

Menurut striker Orlando Pirates yang juga sempat ikut seleksi timnas Afsel, Daihe Klate, ini karena pembinaan sepak bola di negerinya kurang baik. Kompetisi berjalan lancar, tapi tak ada pembinaan konsisten untuk semua umur.

"Kami sudah memiliki kompetisi yang baik. Tapi, tak ada pembinaan konsisten untuk semua umur sehingga kami terkesan kelabakan ketika harus menghadapi Piala Dunia," ungkapnya.

Namun, terlepas dari beberapa kekurangan, Afsel setelah Piala Dunia sebenarnya memiliki banyak keuntungan. Tinggal bagaimana mereka memanfaatkan keuntungan itu demi kebaikan. Wajar jika mereka kini menargetkan jadi tuan rumah Olimpiade 2020. Pasalnya, ini akan melanjutkan keuntungan-keuntungan seperti itu.

Persatuan antarwarga yang masih belum kuat bisa lebih diperkuat. Ekonomi yang bergolak bisa segera ditingkatkan. Pola kerja keamanan selama Piala Dunia, yang cukup bisa meredam kriminalitas di Afsel, bisa diteruskan. Kebanggaan dan kepercayaan warga juga tinggal terus dipertahankan.

Fasilitas sepak bola dan olahraga juga makin megah dengan dibangun dan direnovasinya beberapa stadion. Bahkan, Afsel kini memiliki banyak stadion bertaraf internasional.

Afsel setelah Piala Dunia punya banyak modal berharga untuk menata diri lebih baik lagi, baik di bidang ekonomi, sosial, politik, maupun budaya.

0 komentar:

Poskan Komentar

my wibiya widget

Diberdayakan oleh Blogger.
Ada kesalahan di dalam gadget ini